Tugas ILMU BUDAYA DASAR
MAKALAH
ILMU BUDAYA DASAR
BAB I
PENDHULUAN
1.1 .Latar Belakang
Karya sastra merupakan pengungkapan baku dari apa
yang telah disaksikan, diilhami, dan dirasakan seseorang mengenai segi-segi
kehidupan yang menarik minat secara langsung dan kuat, pada hakikatnya suatu
pengungkapan kehidupan manusia melalui bentuk bahasa (Hardjana, 1985:10). Karya
sastra juga dapat dikatakan sebagai bagian yang penting dari proses sosial dan
kebudayaan. Karya sastra juga mengaitkan berbagai masalah kehidupan seperti
agama, filsafat, psikologi, sosiologi, etika, hukum, dan politik. Oleh karena
itu, karya sastra juga dapat ditelusuri dengan menggunakan pendekatan melalui
disiplin-disiplin ilmu yang lain seperti sosiologi, psikologi, sejarah,
filsafat, hukum, dan sebagainya
1.2 .Tujuan
Penulisan
Tujuan penulisan
agar masayarakat lebih tau apa itu yang dinamakan karya sastra dan masyarakat
dapat mengerti dan berminat untuk mempelajarinya
BAB II
PEMBAHASAN
3.1 .Pendekatan
Kesusastraan
Kesusastraan
adalah hasil proses yang berjerih payah, dan tiap orang yang pernah menulis
karya sastra tahu: ini bukan sekadar soal keterampilan teknik. Menulis
menghasilkan sebuah prosa atau puisi yang terbaik dari diri kita adalah proses
yang minta pengerahan batin.
Sastra merupakan kata serapan
dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti "teks yang mengandung
instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti
"instruksi" atau "ajaran". Dalam bahasa Indonesia kata ini
biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis
tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Yang agak bias adalah
pemakaian istilah sastra dan sastrawi. Segmentasi sastra lebih mengacu sesuai
defenisinya sebagai sekedar teks. Sedang sastrawi lebih mengarah pada sastra
yang kental nuansa puitis atau abstraknya. Istilah sastrawan adalah salah satu
contohnya, diartikan sebagai orang yang menggeluti sastrawi, bukan sastra.
3.2
. Ilmu Budaya
Dasar yang dihubungkan dengan prosa
Istilah prosa banyak padanannya. Kadang-kadang disebut narrative
fiction, prose fictionatau hanya fiction saja. Dalam bahasa Indonesia istilah
tadi sering diterjemahkan menjadi cerita rekaan dan didefinisikan sebagai
bentuk cerita atau prosa kisahan yang mempunyai pemeran, lakuan, peristiwa dan
alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi. Istilah cerita rekaan
umumnya dipakai untuk roman, atau novel, atau cerita pendek.
3.3
.Nilai Nilai Dalam Prosa Fiksi
1. Prosa fiksi memberikan kesenangan
Keistimewaan kesenangan yang diperoleh dan membaca fiksi adalah pembaca mendapatkan pengalaman sebagaimana mengalaminya sendiri peristiwa itu peristiwa atau kejadian yang dikisahkan. Pembaca dapat mengembangkan imajinasinya untuk mengenal daerah atau tempat yang asing, yang belum dikunjunginya atau yang tak mungkin dikunjungi selama hidupnya. Pembaca juga dapat mengenal tokoh-tokoh yang aneh atau asing tingkah lakunya atau mungkin rumit perjalanan hidupnya untuk mencapai sukses.
2. Prosa fiksi memberikan infonnasi
Fiksi memberikan sejenis infonnasi yang tidak terdapat di dalam ensildopedi. Dalam novel sexing kita dapat belajan sesuatu yang lebih datipada sejarah atau laporan jumalistik tentang kehidupan masa kini, kehidupan masa lalu, bahkan juga kehidupan yang akan datang atau kehidupan yang asing sama sekali.
3. Prosa fiksi memberikan warisan kultural
Prosa fiksi dapat menstimuli imaginasi, dan merupakan sarana bagi pemindahan yang tak henti-hentinya dari warisan budaya bangsa.
3.4
. Ilmu Budaya Dasar yang dihubungkan Dengan Puisi
Puisi adalah ekspresi pengalaman jiwa penyair mengenai
kehidupan manusia, alam dan Tuhan melalui media bahasa yang artistik/estetik
yang secara padu dan utuh dipadatkan kata-katanya.
Kepuitisan,
keartistikan atau keestetikaan bahasa puisi disebabkan oleh kreatifitas penyair
dalam membangun puisinya dengan menggunakan :
1.Figura
bahasa seperti gaya personifikasi (penjelmaan), metafora (kiasan),
Perbandingan, alegori (kiasaan), sehingga puisi menjadi segar dan menarik.
2.Kata-kata
yang ambiquitas , yaitu kata-kata yang bermakna ganda.
3.Kata-kata
yang berjiwa yaitu kata-kata yang sudah diberi suasana tertentu,
berisi perasaan dan pengalaman jiwa penyair sehingga terasa hidup.
4.Kata-kata
yang konotatif yaitu kata-kata yang sudah diberi tambahan nilai rasa dan
asosiasi tertentu.
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Jadi kesimpulan dari makalah di
atas adalah untuk memberitahukan bahwa pedekatan kesustraan adalah hasil proses yang berjerih payah,
dan tiap orang yang pernah menulis karya sastra tahu: ini bukan sekadar soal
keterampilan teknik.dan juga ksimpulan dari makalh ini adalah untuk menarik
minat masyarakat untuk mempelajari pendekatan kesustaraan.
DAFTAR PUSTAKA
Komentar
Posting Komentar